Jumat, 11 Agustus 2017

Tips Diet Sehat Untuk Yang Sibuk Bekerja

Seringkali kita merasa iri dengan rekan sekantor yang bisa dengan mudah menurunkan berat badannya padahal yang ia lakukan hanya menghindari makan nasi. Sedangkan kita, sudah diet mati-matian menghindari nasi dan tidak makan malam bahkan disertai dengan olahraga yang cukup keras hasilnya tak kunjung membuat berat badan turun. Apa yang salah ya?

Secara umum tak ada yang salah dengan hal tersebut. Tak semua progam diet menunjukan hasil yang sama pada semua orang. Malah, ada pola makan yang tidak cocok dengan cara kerja otak kita. Hasilnya tentu saja akan membuat progam diet gagal.

Ada orang yang cocok berhasil dengan diet berdasarkan golongan darah, ada pula yang berhasil menurunkan berat badannya dengan diet karbohidrat, tapi jangan salah, banyak ornag yang gagal memperoleh hasil padahal sudah melakukan anjuran diet dengan benar.

Menurut sebuah penelitian di Amerika, metabolisme tubuh tidak berkaitan dengan masalah kegemukan. Menurut oenelitin itum otaklah yang memiliki pern penting penyebab obesitas. Otak yang menginstruksikan seseorang agar berhenti makan, memberitahu tubuh bahwa perut kita sudah kenyang, atau malah meminta Anda terus menghabiskan semangkuk es krim yang tersedia di hadapan Anda.

Berdasarkan hal tersebut, ada pola diet khusus untuk mereka yang teralu bersemangat bekerja atau yang sering disebut dengan workaholic. Sebelum memulai diet, Anda harus mengenali cara kerja otak orang yang doyan bekerja. Berikut ini ada beberapa pertanyaan untuk mengenali apakah Anda si workaholic atau bukan. Jika jawaban Anda kebanyakan atau minimal 3 ANda jawab dengan sering, atau iya maka Anda harus menjalankan pola diet untuk si workaholic tersebut.

Pertanyaan: 
  1. Apakah Anda cukup sering merasa cemas atau merasa tegang?
  2. Apakah Anda cenderung mudah panik?
  3. Anda sering mengalami gangguan sakit kepala atau otot yang kaku?
  4. Anda sering memeikirkan hal buruk yang akan terjadi?
  5. Anda cenderung menghindari konflik?
  6. Apakah Anda takut diperhatikan oleh orng lain secara cermat?
  7. Apakah Anda menganggap diri Anda workaholic?
  8. Anda kurang percaya diri?
  9. Apakah Anda sering mengharapkan hal buruk terjadi?
  10. Apakah Anda cenderung mudah terkejut?
Jika Anda termasuk kategori workaholic, Anda adalah tiep orang yang mudah cemas. Maka tanpa sadar Anda akan cenderung mengatasi kecemasan dan ketakutan yang Anda alami dengan mengonsumsi makanan.

Semakin tinggi tingkat kecemasan yang ANda alami, semakin tinggi pula keinginan Anda untuk mengonsumsi makanan yang manis dan berkabohidrat tinggi. Peneybabyna, makanan manis dipercaya dapat memberikan efek menenangkan dan rileks. Jika sudah demikian, cobalah melakukan diet untuk si workaholic berikut ini.
Hal yang harus dihindari:

Anda harus menghindari progam diet rendah kalori. Diet rendah kalori akan membuat Anda merasa lapar sehingga kadar hormon kortisol (hormon stres) akan terus meningkat.
Yang harus dilakukan: 
Lakukan dan terapkan Macrobiotic diet atau the zone diet. The zone diet dipopulerkan oleh seorang ahli biokimia bernama Barry Sears. Anjuran dalam diet ini adalah konsumsi kalori dari protein, lemak dan karbohidrat secara seimbang. artis-artis ternama dunia seperti Madonna, Jenifer Aniston, dan Demi Moore mererapkan diet ini.
Sementara itu, diet makrobiotik adalah diet alami yang menganjurkan pelakuknya untuk menghindari lemak dalam pada menu makanannya dan lebih mengutamakan untuk mengonsumsi sayuran dan padi-padian.

Ada cara lain selain dua progam diet diatas yang bisa dicoba diterapkan oleh si workaholic antara lain adalah:
  1. Pilih makanan yang memberi dampak baik pada otak seperti brokoli, nasi merah, pisang, dan kacang-kacangan.
  2. Kurangi konsumsi alkohol dan kafein yang malah dapat memperparah stres.
  3. Lakukan olahraga relaksasi seperti Yoga.
  4. Konsumsi suplemen bila perlu seperti vit B6 serta magnesium untuk yang bermanfaat mengurangi kecemasan.
Continue reading

Tips Kesehatan: Cara Mengecilkan Perut

Siapa yang tidak ingin memiliki perut ramping? Bagian tubuh yang satu ini memiliki pengaruh pada kepercayaan diri seseorang. Karena perut buncit atau tidak rata, Anda tentu merasa kurang kurang percaya diri. Terlebih lagi, apabila Anda melihat lebih dekat pada sisi kesehatan. Lemak yang menumpuk akan menimbulkan rasa malas. Bukannya semakin berkurang, justru malah makin bertambah sehingga berbagai macam penyakit mudah menyerang. Misalnya saja fungsi hati untuk memfilter racun dalam aliran darah terganggu karena timbunan lemak di area perut. Ini adalah masalah serius.

Jangan buang waktu lagi. Yang Anda butuhkan adalah tips kesehatan: cara mengecilkan perut. Saatnya merubah keadaan dengan merampingkan perut untuk secara total membuat kehidupan Anda menjadi lebih baik. Cukup mudah sebenarnya untuk mengatasi masalah ini. 

Berikut adalah tips aman dan alami untuk mengecilkan perut buncit.
  • Perbanyak minum air
Tentunya Anda sudah sangat familiar dengan anjuran minum air minimal 8 gelas sehari atau setara dengan satu liter. Anjuran ini bukan sekedar bertujuan untuk memenuhi kebutuhan mineral pada tubuh agar tubuh tidak dehidrasi. Ternyata ada manfaat lebih lainnya dari kebiasaan minum air minimal seliter sehari. Air membantu memperbaiki metabolisme tubuh terutama untuk empedu yang berfungsi mengeluarkan produk sampah. Dengan minum air lebih banyak, konsentrasi sodium dapat dicairkan dengan lebih mudah dan meningkatkan jumlah air yang keluar dari sistem. Selain itu, air juga bisa mengontrol nafsu makan karena Anda akan merasa kenyang lebih cepat.
  • Kontrol pola dan cara makan
Mungkin Anda sudah biasa dengan kebiasaan makan 3 kali sehari. Namun, tahukah Anda, bahwa makan 5 kali sehari dengan porsi sedikit setiap waktu makan akan membuat Anda tidak gampang lapar. Pastikan pula lebih banyak konsumsi makanan pembakar lemak dan mengandung serat seperti sayuran, buah, ikan, susu skim dan telur putih. Hindari makanan dengan kalori berlebih dan mengurangi konsumsi garam. Selain itu, cara makan juga perlu diperhatikan. Perlahan saja agar membantu usus untuk memproses makanan.
  • Olahraga rutin
Ini adalah cara wajib. Bantu tubuh Anda bergerak karena itu merupakan cara membakar kalori atau lemak. Menggerakkan tubuh juga membantu menggerakkan cairan pada perut dan mendorongnya keluar sebagai keringat atau melewati empedu sebagai urine, dimaan cairan-cairan tersebut membawa sampah. Sisihkan waktu setidaknya 15 menit untuk menggerakkan tubuh setiap hari. Anda juga bisa melakukan hal-hal praktis seperti jalan kaki ke kantor atau melakukan kegiatan rumah.
  • Istirahat yang berkualitas
Orang dewasa membutuhkan waktu 7-8 untuk mengistirahatkan tubuh dalam aktifitas tidur. Selama proses istirahat ini, tubuh mengumpulkan energi untuk kembali beraktifitas dan juga mencerna makanan. Menurut penelitian, kualitas tidur mempengaruhi metabolism dan menurunkan kemampuan tubuh untuk membakar kalori.
  • Hindari stress
Saat Anda mengalami stress, ada kecenderungan makan berlebih terutama makanan-makanan seperti snack yang mengandung kalori tinggi. Hal ini dikarenakan hormon cortisol yang dapat meningkatkan nafsu makan dimana tubuh terpicu melepas hormon ini karena stress.
 
Bagaimana? Apakah Anda siap untuk mempraktekkan tips kesehatan: cara mengecilkan perut? Sebelum itu, jangan lupa untuk pergi ke dokter untuk mengkonsultasikan lebih lanjut tentang kondisi tubuh Anda sebenarnya. Selain itu, ajak anggota keluarga yang lain untuk bekerja sama. Anda membutuhkan mereka untuk memotivasi dan juga mengawasi Anda agar Anda tetap pada jalur. Terlebih lagi, dibutuhkan proses untuk membuat perut Anda menjadi lebih ramping. Jadi, kesabaran juga sangat dibutuhkan untuk mengecilkan perut secara alami dan sehat.
Continue reading

Kamis, 10 Agustus 2017

Penting: Kondisi Kehamilan Yang Perlu Diwaspadai

Masa kehamilan memang sangat rentan terhadap berbagai resiko. Apalagi jika kondisi si ibu tidak fit atau sedang mengidap penyakit tertentu. Selain penyakit, ada beberapa kondisi yang harus diwaspadai oleh mereka yang ingin hamil karena dapat menyebabkan kehamilan tersebut menjadi beresiko dan bahkan membahayakan si ibu dan janin, diantaranya adalah:

1. Jarak kelahiran yang terlalu rapat sangat beresiko bagi ibu hamil.

Usai melahirkan biasanya seorang wanita akan membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 tahun untuk memulihkan diri serta memulihkan organ kandungannya. Oleh karena itu kehamilan rapat yang dibawah 2 tahun tidak disarankan oleh para ahli kandungan. Selain rahim belum siap, resiko lain adalah pertumbuhan janin yang kurang sempurna serta resiko pendarahan.

Usia maksimal bagi wanita yang ingin hamil adalah 35. Jika seorang wanita berusia lebih dari 35 tahun dan ingin hamil maka dirinya harus ekstra waspada serta benar – benar menjaga kandungannya agar si jabang bayi benar – benar sehat. Pada usia di atas 35 tahun kondisi kesehatan sudah menurun sehingga berpotensi bayi lahir cacat, pendarahan, atau persalinan yang lama.

2. Selain terlalu tua, wanita yang terlalu muda atau dibawah 20 tahun juga sangat beresiko ketika hamil.

Usia sebelum 20 tahun biasanya organ rahim belum tumbuh dengan sempurna sehingga dapat menimbulkan beberapa masalah ketika persalinan seperti proses melahirkan yang terlalu lama, proses kelahiran yang macet.

Ada alasan tersendiri kenapa pemerintah enganjurkan agar suami istri hanya memiliki 2 anak saja sebab wanita yang hamil lebih dari 4 kali beresiko mengalami masalah pada kehamilan – kehamilan berikutnya. Masalah yang sering timbul biasanya adalah rahim yang semakin lemah sehingga bisa memicu pendarahan serta masalah – masalah lainnya.

3. Ibu dengan tinggi badan kurang dari 145 cm serta memiliki tubuh yang mungil juga harus waspada jika ingin hamil.
Tubuh yang mungil biasanya memiliki ukuran pinggul yang sempit sehingga akan menghambat jalannya persalinan. Meskipun tidak semua wanita bertubuh mungil kesulitan melahirkan bayinya, namun bagi anda yang memiliki tinggi badan dibawah 145 cm sebaiknya rajin memeriksakan diri ke bidan atau dokter kandungan.

Wanita yang terlalu kurus juga sebaiknya waspada jika ingin hamil. Ukuran wanita yang kurus adalah jika lingkar lengan bagian atas kurang dari 24 cm. Kondisi ini dalam dunia medis disebut juga dengan KEK atau kekurangan energy kronis.
Continue reading

Rabu, 09 Agustus 2017

Tips Untuk Ibu Hamil 2 Bulan

Barangkali kehamilan pada bulan kedua merupakan fase yang anda tunggu-tunggu, sebab kehamilan kedua juga berarti bahwa jantung mikroskopis pada bayi anda mulai berdetak, meskipun sebenarnya hal ini tidak akan terdekteksi selama beberapa minggu. Akan tetapi setidaknya fase kehamilan pada bulan kedua menunjukkan pembentukan sistem organ pertama pada bayi. Teorinya, ada detak jantung yang sangat halus, dan darah mulai mengalir ke seluruh tubuh janin. Otak janin kemudian akan mulai membantu koordinasi sistem reproduksi, jantung, dan saraf.

Bisa dipahami bahwa tugas ibu menjadi lebih berat karena pada waktu kehamilan dua minggu janin mulai menampakkan bentuk organ, walaupun sifatnya masih mikroskopis – terutama bila usia kehamilan baru memasuki lima miggu. Karena itulah seorang ibu mungkin perlu didampingi oleh beberapa tips untuk ibu hamil 2 bulan.  Lalu, apa yang harus dilakukan oleh seorang ibu pada fase tersebut? Pada intinya, fase tersebut menuntut seorang ibu untuk mengkonsumsi 300 kalori setiap harinya, sebuah jumlah yang bisa didapatkan dengan cara mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran segar setiap hari. Ini adalah tips pertama.

Kemudian, seorang ibu hamil pada fase bulan kedua perlu juga untuk mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Namun jika mengalami kelelahan yang berlebihan, maka beberapa obat-obatan alami sangat dianjurkan. Selain itu, melakukan jalan santai setiap hari selama 10 menit akan membantu ibu untuk mengatasi kelelahan. Senam dengan gerakan yoga juga sangat dianjurkan. Hisaplah permen atau tetes lemon untuk mengurangi gejala morning sickness yang mengurangi nafsu makan. Demikianlah tips untuk ibu hamil 2 bulan. Semoga bermanfaat.
Continue reading

Minggu, 06 Agustus 2017

Tips Terhindar dari Anemia Bagi Ibu Hamil

Kondisi anemia atau kekurangan sel darah merah merupakan kondisi yang umum terjadi pada ibu hamil. Buat mereka yang sudah memiliki anemia sebelum hamil, maka resiko anemia pada saat hamil akan jauh lebih besar. Resiko anemia ini sendiri sebenarnya merupakan hal yang sudah sewajarnya terjadi mengingat kebutuhan ibu hamil akan zat besi sebagai pembentuk sel darah merah meningkat tinggi saat kehamilan.

Sejak awal masa kehamilan, banyak sekali sel darah merah yang dipergunakan dalam rangka pembentukan janin. Bisa dikatakan bahwa kebutuhan ibu hamil akan zat besi meningkat drastis hingga dua kali lipat dari biasanya. Sehingga tidak heran bila asupan zat besi tidak turut bertambah, maka sang ibu akan menderita anemia. Kondisi ini juga bisa diperparah dengan kenyataan bahwa pada masa trisemester pertama banyak ibu hamil yang mengalami gangguan kesehatan seperti mual dan muntah-muntah yang menyebabkan asupan zat besi semakin berkurang.

Selain pada ibu hamil, resiko anemia juga dialami oleh mereka yang mengalami kehamilan dalam waktu yang berdekatan. Kebutuhan zat besi akan meningkat karena zat besi ini juga dibutuhkan untuk masa pemulihan paska melahirkan.

Gejala anemia pada ibu hamil masih bisa dikatakan normal bila gejala yang muncul termasuk dalam kategori ringan seperti misalnya rasa pusing saat berdiri tiba-tiba, mudah lelah serta pandangan berkunang-kunang.

Hal ini tentu tidak boleh dibiarkan karena bisa menyebabkan munculnya anemia dengan gejala yang lebih berat misalnya saja lemah jantung, sesak napas dan juga menyebabkan daya tahan tubuh menjadi jauh berkurang sehingga sang ibu hamil lebih renta terkena penyakit. Walaupun bisa dikatakan normal, anemia pada ibu hamil tetap tidak boleh dibiarkan karena bisa beresiko bagi sang bayi karena bisa menyebabkan bayi cacat, prematur ataupun keguguran.

Asupan nutrisi yang cukup sangatlah penting bagi setiap ibu hamil untuk menghindari terjadinya anemia ditempat pertama. Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan ibu hamil agar tidak mengidap anemia, yaitu:
  • Banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung asam folat terutama di masa awal kehamilan untuk membantu tumbuh kembang bayi dan juga membantu melawan anemia.
  • Sangat penting untuk menambah asupan makanan yang kaya akan zat besi misalnya saja sayur bayam atau sayuran berdaun hijau lainnya, telur yang dimasak matang, berbagai jenis kacang-kacangan, serta berbagai makanan sumber protein yang juga kaya akan zat besi seperti ikan dan daging merah. Pastikan bahwa sumber makanan ini selalu tersedia dalam menu makanan sang ibu hamil sehari-hari.
  • Selain banyak mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat besi, ibu hamil juga perlu banyak mengkonsumsi banyak vitamin C yang bukan hanya baik untuk menjaga kekebalan tubuh namun juga berperan penting dalam meningkatkan penyerapan zat besi di dalam tubuh.
  • Mengkonsumsi suplemen zat besi yang umumnya akan diberikan oleh dokter atau bidan selama masa kehamilan.
  • Melakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti pemeriksaan hematokrit dan hemaglobin untuk lebih memastikan kondisi anemia yang diderita oleh sang ibu hamil, sehingga bisa dilakukan tindakan pengobatan lebih lanjut.
Continue reading

Mencegah Janin Agar Tidak Meninggal di Dalam Kandungan

Setiap kehamilan memiliki resikonya tersendiri salah satunya adalah meninggalnya bayi dalam kandungan. Kejadian meninggalnya bayi dalam kandungan dikenal dengan nama Intra Uterin Fetal Death (IUFD) yang sering terjadi saat usia kehamilan berada pada masa trisemester kedua.

Hal ini berbeda dengan kondisi keguguran yang terjadi pada masa trisemester pertama. Kejadian seperti ini bisa disebabkan oleh berbagai hal namun yang sering terjadi adalah karena kondisi imun sang ibu yang menurun dan pada akhirnya mengganggu pembentukan organ janin dalam kandungan yang menyebabkan sang bayi meninggal dunia. Hal yang sama juga bisa terjadi karena adanya kelainan bawaan atau bisa juga karena ketidak cocokan darah antara sang ibu dan janin.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari atau mengurangi resiko meninggalnya bayi dalam kandungan, yaitu:
  • Menghindari pola hidup tidak sehat. Ada beberapa pola hidup tidak sehat seperti merokok dan juga mengkonsumsi alkohol yang perlu dihindari pada masa kehamilan. Kedua kebiasaan ini memiliki banyak dampak negatif selain meninggalnya bayi dalam kandungan yaitu adanya komplikasi berat pada kehamilan itu sendiri atau bisa juga menyebabkan kelainan pada bayi dalam kandungan.
  • Menjaga kesehatan. Pada masa kehamilan, kondisi kesehatan sang ibu akan jauh lebih rentan terhadap berbagai serangan penyakit. Oleh karena itu, sang ibu hamil wajib menjaga kesehatan mereka dengan cara selalu menjaga kebersihan sekitar dan juga makanan yang dikonsumsi, melakukan olahraga ringan secara teratur dan juga dengan mendapatkan beberapa jenis imunisasi kehamilan. Dengan begini , bukan hanya kesehatan sang ibu yang akan terjaga namun juga bayi yang ada di dalam kandungan.
  • Istirahat yang cukup. Salah satu persyaratan agar bisa hidup sehat adalah dengan mendapatka istirahat yang cukup setiap harinya. Hal ini berlaku untuk semua orang terutama untuk para ibu hamil. Istirahat atau tidur yang cukup setiap harinya akan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak dan juga memberi kesempatan untuk melawan berbagai penyakit yang mungkin menyerang. Mendapatkan istirahat yang cukup juga sangat dianjurkan untuk mereka yang memiliki resiko atau riwayat keguguran.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh sebelum kehamilan. Sangat disarankan bagi setiap pasangan yang merencanakan untuk memiliki momongan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Bagi sang ibu hamil, pemeriksaan yang dilakukan bisa berputar pada riwayat kesehatannya. Bagi mereka yang memiliki gangguan kesehatan misalnya saja tekanan darah tinggi atau hipertensi, maka perlu memperhatikan pola makan agar tidak berujung pada preeklampsia atau keracunan kehamilan. Dengan melakukan pemeriksaan kesehatan seperti ini, resiko terjadinya komplikasi kehamilan atau meninggalnya bayi bisa dicegah sejak dini.
  • Pemeriksaan lebih lanjut sebelum merencanakan kehamilan selanjutnya. Langkah yang satu ini terutama perlu diambil oleh mereka yang pernah mengalami keguguran atau meninggalnya bayi dalam kandungan pada kehamilan sebelumnya. Pada beberapa kasus, otopsi perlu dilakukan untuk mencari tahu dengan pasti apa yang menjadi penyebab meninggalnya bayi tersebut. Dengan begitu sang ibu hamil dapat mempersiapkan kehamilan selanjutnya dengan lebih waspada dan bila memang dibutuhkan dapat dilakukan perawatan yang sesuai kebutuhan.
Kejadian meninggalnya bayi dalam kandungan dapat terjadi pada siapa saja. Namun dengan pemeriksaan yang teratur serta dengan selalu menjaga kondisi kesehatan bayi dan sang ibu, maka resiko meninggalnya sang bayi dapat diminimalisir atau dihindari sama sekali hingga sang bayi dapat lahir dengan selamat.
Continue reading

Sabtu, 05 Agustus 2017

Bolehkah Wanita Hamil Minum Kopi?

Bolehkah wanita hamil minum kopi? Banyak yang mengatakan bahwa wanita hamil maupun wanita yang sedang mencoba untuk hamil harus menghindari konsumsi kafein dalam kopi. Namun demikian, setelah beberapa dekade terjadi kontroversi dan bukti yang bertentangan mengenai berapa banyak kafein yang aman dikonsumsi selama masa kehamilan.

Para ahli menyarankan para wanita untuk membatasi asupan kafein yaitu kurang dari 200 miligram per hari, atau sekitar 12-ons cangkir kopi. Menurut sebuah studi, wanita yang mengkonsumsi kafein lebih dari 200 miligram per hari memiliki risiko keguguran dua kali lipat dari pada mereka yang tidak mengkonsumsi kafein.

Meskipun demikian, tidak semua penelitian yang dilakukan menunjukkan hubungan konsumsi kafein dan lebih tingginya risiko keguguran. Seperti dilansir dari babycenter.com, sebuah penelitian yang dilakukan di Denmark menemukan bahwa wanita yang tidak mengkonsumsi kafein memiliki risiko bayi mati setelah beberapa jam kelahiran lebih dari dua kali lipat daripada wanita yang mengkonsumsi delapan cangkir kopi setiap harinya.

Pada penelitian lain menunjukkan bahwa wanita yang mengkonsumsi lebih dari 500 miligram kafein sehari, bayi yang dilahirkan memiliki detak jantung dan tingkat pernafasan yang lebih cepat serta waktu terjaganya lebih banyak pada beberapa hari pertama kelahirannya. Beberapa penelitian juga menunjukkan hubungan antara konsumsi kafein tinggi dan sedikit perunurunan berat badan pada bayi yang baru lahir.

Tidak mengkonsumsi banyak kafein akan membuat anda merasa lebih baik. Ini merupakan stimulan, sehingga dapat meningkatkan detak jantung anda. Selain itu juga dapat membuat anda gelisah dan menyebabkan gangguan tidur atau insomnia. Konsumsi kafein juga dapat mempengaruhi heartburn (kondisi merasa panas di dalam perut) dengan merangsang sekresi asam lambung.

Efek yang ditimbulkan ini akan lebih terasa pada saat kehamilan memasuki trimester pertama. Hal ini dikarenakan melambatnya kemampuan tubuh anda untuk memecah kafein, sehingga berakhir dengan tingkat yang lebih tinggi dalam aliran darah anda. Memasuki trimester kedua, dibutuhkan waktu dua kali lebih lama untuk membersihkan kafein dari dalam tubuh anda seperti ketika anda tidak hamil.

Memasuki trimester ketiga, waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan kafein dalam tubuh menjadi tiga kali lebih lama.Hal ini dapat mempengaruhi jumlah kafein yang melintasi plasenta dan mencapai janin dalam rahim, yang tidak dapat diproses secara efisien. Senyawa fenol yang terdapat dalam minuman yang mengandung kafein akan membuat tubuh anda lebih sulit untuk menyerap zat besi. Padahal, zat besi sangat dibutuhkan dan sangat penting untuk wanita hamil.

Namun bila anda masih ingin mengkonsumsi minuman yang mengandung kafein seperti teh atau kopi selama hamil, sebaiknya anda mengkonsumsinya antara waktu makan sehingga efek yang ditimbulkan pada penyerapan zat besi lebih sedikit. Satu kopi porsi mengandung jumlah kafein yang bervariasi, tergantung dari proses pembuatan kopi dan jumlah takaran untuk menyeduh kopi (espresso mengandung lebih banyak kafein per ons dalam cangkir kecil, jadi secangkir penuh kopi yang diseduh mengandung lebih banyak kafein).

Jika saat hamil anda sulit menghindari kebiasaan untuk mengkonsumsi kafein seperti teh atau kopi, anda dapat mencoba menguranginya dengan cukup mengkonsumsi satu cangkir sehari. Selain itu anda juga bisa mengurangi takaran kopi dan mencampur kopi dengan susu.

Saat menyeduh, cobalah untuk menggunakan lebih sedikit kopi bubuk (atau daun teh). Meskipun teh herbal disebut-sebut tidak mengandung kafein, pastikan anda membaca dengan cermat daftar bahan yang digunakan. Zat aditif atau tumbuh-tumbuhan tertentu mungkin tidak aman dikonsumsi selama kehamilan sehingga anda perlu berkonsultasi dengan dokter.
Continue reading

Jumat, 04 Agustus 2017

Cara Mengatasi Varises pada Ibu Hamil

Pada saat hamil, banyak ibu yang mengalami varises pada kaki. Varises adalah kondisi membengkaknya pembuluh darah dan biasanya berwarna kebiruan. Varises ini disebabkan oleh adanya pembuluh darah balik yang mengakibatkan dinding vena menurun. Varises biasanya terjadi pada bagian kaki (terutama di belakang lutut), atau di area kewanitaan.

Varises yang terjadi saat hamil dipengaruhi oleh hormon progesteron. Seiring pertumbuhan bayi dalam kandungan, pembuluh darah di panggul dan pembuluh darah besar akan tertekan. Katup yang dimiliki oleh pembuluh darah vena dapat menghentikan darah yang kembali ke jantung dari mengalir mundur.

Apabila katup ini tidak dapat berfungsi dengan baik, pembuluh darah akan menjadi sesak dan mengakibatkan darah bertambah. Akibatnya, dinding pembuluh darah mulai meregang dan membengkak vena, dan membuatnya terlihat di bawah kulit anda.

Varises saat hamil merupakan kondisi yang wajar, karena tidak akan mengganggu perkembangan janin dalam kandungan. Namun demikian, jika anda mengalami kelebihan berat badan selama hamil, kondisi berat badan janin, atau kehamilan bayi kembar dapat membuat varises semakin memburuk. Begitu pula dengan varises yang terjadi pada area kewanitaan akan dapat menghambat persalinan.

Pada kondisi varises yang parah, akan mengakibatkan persalinan caesar. Risiko varises akan semakin besar bagi anda yang hamil pada usia diatas 40 tahun karena terjadi penebalan dinding pembuluh darah yang menghambat aliran vena, sehingga varises mudah sekali muncul.

Berikut ini beberapa cara untuk mengatasi varises selama kehamilan :

1. Mencukupi kebutuhan cairan tubuh

Hindari terlalu banyak minum teh, kopi atau cola karena dapat membuat varises lebih menyakitkan dan menyebabkan sembelit pada ibu hamil. Usahakan untuk minum setidaknya 8 gelas air putih per hari. Apabila anda membutuhkan suplemen tambahan sebaiknya konsultasikan lebih dahulu dengan dokter kandungan anda.

2. Konsumsi makanan sehat

Konsumsi makanan sehat akan dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan akibat adanya varises. Disamping itu juga dapat mencegah varises bertambah buruk. Anda dapat mengkonsumsi jus buah, terutama blueberry dan blackberry yang dapat membantu mencegah varises. Kedua buah ini mengandung pigmen yang dapat memperkuat dinding pembuluh darah. Mengkonsumsi vitamin E juga dapat menurunkan risiko varises yang semakin parah seperti halnya bawang putih yang dapat mencegah munculnya varises. Hindari mengkonsumsi makanan olahan karena dapat memperburuk kondisi varises.

3. Hindari memakai sepatu hak tinggi selama kehamilan

Selama kehamilan sangat disarankan untuk tidak memakai sepatu hak tinggi karena dapat menghambat pembuluh darah di area kaki. Namun jika anda ingin memakai sepatu hak tinggi pada kegiatan tertentu, usahakan hak sepatu anda tidak lebih dari 5 cm. Selain itu hindari pula duduk atau jongkok terlalu lama dan hindari menyilangkan kaki saat duduk.

4. Olahraga dapat mengurangi varises

Olahraga yang teratur dapat menjaga sirkulasi dalam pembuluh darah sekaligus mengurangi penumpukan lemak. Anda bisa berjalan, berenang, atau mengikuti kelas olahraga kehamilan ringan. Hindari olahraga yang berlebihan, seperti jogging atau bersepeda karena justru dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di kaki anda.

5. Hindari memijat varises

Hindari memijat langsung di atas varises anda, karena selain menyakitkan juga dapat membuat pembuluh darah semakin buruk. Anda dapat menggunakan air dingin untuk meregangkan otot-otot tanpa memijat. Anda juga bisa mencoba mengompresnya dengan kain yang dalam cuka sari apel dua kali sehari. Apabila varises anda semakin parah, segera konsultasikan ke dokter untuk penanganan yang lebih lanjut.
Continue reading

Kamis, 03 Agustus 2017

Usia Ideal Untuk Wanita Hamil Dan Melahirkan

Dalam menjalani hidup, manusia mengalami beberapa tahapan.Menikah adalah salah satunya.Usia yang ideal untuk menikah sesuai dengan program pemerintah adalah minimum 21 tahun untuk wanita, sedangkan untuk pria adalah 25 tahun. Selain untuk memenuhi kebutuhan biologis pasangan, menikah juga bertujuan untuk melanjutkan keturunan.

Agar bisa melanjutkan keturunan, wanita harus hamil. Setelah mengetahui usia ideal untuk menikah, kini saatnya kita mengetahui usia ideal bagi wanita untuk hamil dan melahirkan. Berikut ini adalah penjelasan tentang kehamilan dan persalinan sesuai dengan kategori usia.

Usia Dibawah 20 Tahun Beresiko Tinggi

Usia dibawah 20 tahun masih dikategorikan usia remaja. Pada usia ini, kehamilan yang terjadi beresiko cukup tinggi baik pada kesehatan ibu maupun janin. Resiko tinggi terjadi karena organ reproduksi belum benar-benar siap untuk menjalani kehamilan sehingga bisa saja terjadi hal buruk selama kehamilan.Sel telur yang diproduksi oleh gadis remaja juga belum sempurna sehingga ada kemungkinan gangguan pada perkembangan janin.

Pada ibu, bisa terjadi masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi. Kelahiran lebih awal pada usia kandungan dibawah 37 minggu atau prematur juga bisa terjadi. Karena kondisi psikis remaja yang masih belum stabil, ibu kemungkinan bisa mengalami kecemasan pasca melahirkan atau depresi postpartum.

Hal terburuk yang bisa terjadi pada ibu adalah pendarahan dan infeksi yang menyebabkan kematian ibu.Pada janin, kemungkinan masalah yang terjadi adalah bayi lahir dengan berat badan kurang.Pemeriksaan oleh ahli medis sangat diperlukan untuk mengetahui kondisi ibu muda yang mengandung. Pemeriksaan harus dilakukan dengan lebih teliti karena usia remaja sangatlah rawan.

Usia Ideal 21 Sampai 35 Tahun

Usia 21-35 tahun adalah usia ideal bagi wanita untuk hamil dan melahirkan karena resiko gangguan kesehatan pada ibu dan janin yang dikandung lebih rendah dibandingkan usia lainnya. Pada batasan usia ini, resiko kesehatan hanya berkisar 15%.

Kematangan organ reproduksi, kondisi emosional, dan aspek-aspek sosial disekitar wanita pada usia ini juga sudah mencukupi. Oleh karena itulah, disarankan untuk hamil dan mengandung pada usia ini untuk menurunkan tingkat resiko. Selain batasan usia tersebut, ada pula yang menyarankan untuk hamil dan melahirkan pada usia 24 tahun karena usia tersebut adalah puncak kesuburan wanita. Setelah usia 24 tahun, kesuburan wanita akan menurun walaupun kesempatan untuk hamil tetap ada.

Usia Diatas 35 Tahun Beresiko Tinggi

Wanita yang hamil diatas usia 35 tahun dianggap memiliki resiko tinggi karena beberapa gangguan kesehatan lebih sering terjadi pada usia tersebut. Beberapa diantaranya adalah tekanan darah tinggi, gangguan kandung kemih, dan penyakit diabetes gestational yang terjadi selama kehamilan.Gangguan tersebut bisa membahayakan ibu maupun janin.

Selain masalah selama kehamilan, pada usia diatas 30 tahun, wanita juga memiliki kemungkinan penurunan kondisi kesehatan atau kecenderungan terjadinya kondisi medis seperti fibroid uterine. Kondisi medis ini adalah tumbuhnya otot atau jaringan di uterus wanita yang selanjutnya akan berkembang menjadi tumor.

Pada kondisi ini wanita akan merasa sakit dan ada kemungkinan terjadi pendarahan. Namun, walaupun beresiko tinggi untuk hamil dan melahirkan di usia lebih dari 35 tahun, teknologi medis sudah semakin berkembang. Bagi anda yang mengalami hal ini, cek up kehamilan, konsultasi genetik, dan bantuan medis lainnya akan sangat membantu.

Dengan pengetahuan usia idea untuk hamil dan melahirkan ini, anda diharapkan bisa merencanakan kehamilan anda pada usia ideal sehingga bisa mengurangi resiko. Tentunya jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sehingga kehamilan dan persalinan anda bisa berjalan dengan baik.
Continue reading

Rabu, 02 Agustus 2017

Kehamilan Dengan Placenta Previa

Tidak semua kehamilan berjalan dengan normal. Beberapa ibu mengalami kelainan pada kehamilan dan salah satunya adalah placenta previa.

Placenta adalah penghubung antara ibu dan janin yang berfungsi dalam suplai nutrisi. Tidak seperti placenta normal, placenta previa menempel di bagian bawah rahim. Placenta previa dibagi dalam empat macam yaitu totalis, sentralis, partialis, dan marginalis.

Gejala yang biasanya dialami oleh ibu yang mengalami placenta previa adalah terjadinya pendarahan yang keluar dari vagina pada usia kehamilan ke 20 minggu atau lebih. Pendarahan ini biasanya disertai dengan kram dan rasa sakit.

Faktor resiko terjadinya placenta previa adalah kehamilan pada usia ibu lebih dari 35 tahun, kebiasaan buruk yang tidak sehat seperti merokok, kelainan rahim, riwayat operasi rahim pada ibu, kehamilan kembar, dan pada kehamilan sebelumnya, ibu pernah mengalami placenta previa.

Plasenta previa bisa begitu berbahaya pada usia kehamilan yang semakin tua, terutama karena resiko pendarahan.Bagian bawah rahim adalah bagian yang lebih tipis dan lebih vaskular sehingga lebih lemah.Semakin besar kehamilan, leher rahim mulai menipis dan terjadi peregangan karena rahim mempersiapkan diri untuk persalinan.Plasenta yang membentang di daerah ini bisa menyebabkan pembuluh darah sobek dan terjadilah pendarahan.

Gejala pendarahan harus segera mendapat penanganan dari dokter yang dimulai dengan pemeriksaan tentang apa sebenarnya yang menyebabkan pendarahan tersebut. Semakin tua kandungan, semakin besar kemungkinan plasenta previa menyebabkan pendarahan.

Plasenta previa juga bisa menyebabkan komplikasi pada ibu dan juga berdampak pada janin yang dikandung. Kelahiran prematur bisa saja terjadi dan jika kondisi berkembang menjadi lebih buruk, dokter akan menyarankan operasi caesar untuk menyelamatkan ibu dan bayi.

Plasenta previa yang terjadi pada kehamilan yang masih muda bisa mengakibatkan komplikasi persalinan tetapi tentunya persalinan harus menunggu sampai usia bayi cukup. Ada beberapa penanganan yang bisa dilakukan pada plasenta previa yang terjadi di awal kehamilan.Jika ibu berada dalam kondisi sehat dan hb darahnya normal, bisa dilakukan terapi ekspektif.

Penanganan lainnya adalah terapi aktif.Selama terapi, dokter akan selalu memantau tanda-tanda vital anda dan bayi. Jika dokter berhasil mengendalikan pendarahan, hal selanjutnya yang dilakukan oleh dokter adalah membahas dan menjadwalkan operasi caesar dengan ibu dan keluarga. Jika penanganan yang diberikan tidak bisa mengontrol pendarahan, maka dokter akan memutuskan untuk melakukan operasi Caesar walaupun usia kandungan masih muda.

Untuk kondisi kandungan yang sudah memasuki usia tua di trimester terakhir, maka plasenta previa akan mempengaruhi persalinan. Jika kondisi yang terjadi adalah plasenta previa totalis, persalinan harus dilakukan dengan operasi caesar.Pada kondisi previa partialis, persalinan normal masih dimungkinkan tergantung dengan kondisi ibu dan bayi.Untuk kondisi previa marginalis, persalinan normal bisa dilakukan karena jalan lahir tidak tertutup oleh plasenta.

Wanita yang mengalami plasenta previa sangatlah riskan mengalami pendarahan parah. Walaupun persalinan sukses dilakukan, dokter akan terus memantau ibu untuk melihat jika ada tanda-tanda pendarahan setelah persalinan. Obat-obatan bisa membantu dalam mengendalikan pendarahan seperti Pitocin. Jika dibutuhkan, dokter akan memberikan transfusi agar ibu tidak kekurangan darah.

Pemantauan kadar hemoglobin juga diperlukan untuk mengetahui jika ibu atau bayi mengalami anemia. Anemia tidak bisa dibiarkan karena bisa menyebabkan gangguan kesehatan lainnya.Oleh karena itu,akan diberikan suplemen zat besi. Setelah persalinan, Ibu harus melanjutkan konsultasi dengan dokter tentang kondisi ibu dan bayi.Tujuannya adalah untuk mencegah dan melakukan yang terbaik jika ada kejadian buruk.
Continue reading